Langsung ke konten utama

Bully dalam Al Quran

Hadirin jamaah sholat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah, pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan menyampaikan kultum dengan tema “Bully dalam Al Quran”. Di zaman digital seperti sekarang ini tentu membuat kita semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi dan menjalin silaturahmi dengan sanak saudara kita. Tentu munculnya perbuahan sosial tersebut akan muncul efek domino dari gejala tersebut. Bisa jadi efeknya postif jika kita pandai menggunakan media sosial tersebut. Sebaliknya, sebaliknya hal itu akan berubah menjadi efek negatif apabila kita tidak bijak dalam menggunakan media sosial.
Efek negatif yang ditimbulkan dari media sosial yang sering kita lihat adalah maraknya berita hoax, bullying, bahkan kita bisa menjadi orang yang lalai, karena terlalu disibukan dengan gadjed kita, sehingga ibadahpun bisa lalai. Namun dalam pembahasan kali ini saya akan membahasa tentang fenomena bully yang marak terjadi di zaman now.
Allah swt menjelaskan fenomena bully tersebut dalam QS. Al-Hujurat: 11:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Dalam Tafsir al-Maraghi ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan ejekan yang dilakukan oleh sekelompok Bani Tamim terhadap para sahabat Rasul yang miskin, seperti Bilal, Shuhaib, Salman al-Faris, Salim Maula, dll. Dalam riwayat lain bahwa ayat tersebut diturunkan oleh Allah berkenaan dengan ejekan sebagian perempuan kepada Shafiyah binti Huyay bin Akhtab yang merupakan keturunan Yahudi.
Mengutip pandangan Prof. Dr. M Quraish Shihab, kata yaskhar/memperolok-olok adalah menyebutkan kekurangan pihak lain dengan tujuan menertawakan yang bersangkutan baik dengan ucapan, perbuatan/tingkah laku. Fenomena seperti itu sering kita jumpai di dunia maya dimana satu kelompok dengan kelompok lain saling menjelek-jelekan, satu orang dengan dengan yang lain saling mengejek dengan menyebut kekurangan mereka. tentu hal ini tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Al-Quran maupun hadis Nabi. Dalam sebuah hadis beliau bersada: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam. Karena apabila kita tidak bisa menjaga lisan kita maka kita akan terbunuh oleh lidah kita sendiri.
Kemudian kata qaum biasa digunakan untuk menunjukan sekelompok manusia. Bahasa menggunakan kata itu pertama kali untuk menunjuk kelompok laki-laki saja karena ayat tersebut menyebut pula secara khusus wanita. Penyebutan kata nisa’ karena ejekan dan merumpi lebih banyak terjadi dikalangan perempuan dibandingkan dengan laki-laki.
Kata talmizu dalam ayat tersebut dijelaskan oleh Ibnu Asyur. Bahwa kata itu berarti ejekan yang langsung dihadapkan kepada yang diejek, baik dengan isyarat, atau kata-kata yang dipahami sebagai ejekan atau ancaman.
Dari penjelasan sebab diturunkan ayat tersebut tentu membawa pelajaran untuk kita semua bahwa kita tidak boleh menghina atau melecehkan (mem-bully) orang lain karena kemiskinannya, karena keturunan agama tertentu seperti Yahudi, atau karena keluarganya memiliki aib/cela. Pesan Al-Qur’an luar biasa dahsyatnya: Boleh jadi yang kalian olok-olok itu lebih baik dari kalian di sisi Allah.
Mem-bully dilarang bukan saja karena menimbulkan perasaan malu bagi korban karena kehormatan dirinya dijatuhkan, tapi juga terselip perasaan bahwa kita yang mem-bully ini lebih baik dari orang lain, sehingga kita berhak melecehkan mereka, atau bisa jadi terselip perasaan iri hati bahwa orang lain itu lebih baik dari kita dan untuk menutupi ketidaksukaan kita akan kelebihan mereka, maka kita mem-bully mereka. Merusak kehormatan orang lain, memiliki perasaan sombong lebih baik dari orang lain atau dengki/iri hati akan kelebihan yang lain, semuanya tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Ini adalah perbuatan zalim. (NASTA'IN)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Khitabat dan Asbabun Nuzul

A.         Makna Al-Khitobah Makna al-Khitobah adalah الخطا بة , الكلا م الذ ي يقصد به الافها م و الموجه لمن له امل للفهم   “Ucapan yang dipahami dimaksudkan untuk orang-orang yang akan memahami ucapan tersebut”. Dalam pemahaman Filsafat Al-Khitobah dikenal dengan nama Diskursus, jika dalam Bahasa Indonesia adalah Wacana. Pengguna al-Khitob tetap digunakan dengan makna asli pemilik kalam, disebut dengan Mukhotib atau Pemilik kalam (Allah SWT). Khitob dalam al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu Khitob ‘Am dan Khitob Khos : + Khitob ‘Am, Khitob yang sifatnya umum, ditujukan pada orang-orang yang beriman dan tidak beriman. Tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. +   Khitob Khos, Khitob yang sifatnya khusus, ditujukan pada kelompok tertentu. Diantaranya : Allah, Nabi, Rasul, Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani).     Didalam al-Qur’an yang perlu dipahami ada 3 aspek, diantaranya : +   اصلا ح العقا ءد   ...

Bahasa Arab Al-Qur'an

Materi yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Arifin, MA adalah materi Bahasa Arab, tidak seperti materi bahasa arab pada umumnya, akan tetapi beliau menjelaskan materi tentang bahasa arab yang kemudian dikaitkan dengan Al-Qur’an, dalam hal ini bliau menjelaskan sebuah kaidah bahasa Arab, bahwa sebuah sinonim didalam bahasa arab khususnya didalam Al-Qur’an, ketika disebutkan di ayat yang lain maka maknanya akan berbeda, seperti menatap, memandang, memperhatikan dan sebagainya. Didalam Al-Qur'an, Allah SWT menggunakan banyak sekali kata-kata yang berbeda dengan maksud dan tujuan yang berbeda pula, akantetapi artinya sama. Seperti kata buah-buahan, didalam   Al-Qur'an, pertama didalam surat Al-Baqoroh ayat 22 Allah SWT menggunakan  kata "Tsamarot" yang artinya buah-buahan dan pada surat Yasin ayat 36 Allah SWT menggunakan kata "Fakihah" yang artinya buah-buahan pula. Dalam hal ini, maksud buah-buahan pada surat A l B aqoroh dan surat Y asin tentu berbeda. Pe...

Tafsir Ayat 4 Surah al-Qalam

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ   “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. A.        Kajian Makna Kata لَعَلَىٰ / la ala merupakan frase yang tersusun dari dua kata, yaitu lam dan ala, yang kemudian dapat berarti benar-benar atas. Hal yang sangat urgen dalam frase ini adalah kata lam yang—dalam gramatikal bahasa Arab disebut lam tawkid— berfungsi memperkuat informasi. Bahwasanya Nabi Muhammad saw merupakan sosok utusan Allah yang kepribadiannya dihias dengan budi pekerti yang baik/mulia. Kata خُلُقٍ / khuluq merupakan kata yang terambil dari kata khalaqa yang bermakna menciptakan (created). Kata khuluq sendiri seringkali diterjemahkan dengan a moral (budi pekerti). Khuluq/budi pekerti, bagi sebagian pakar, seringkali dikaitkan dengan kata khaliq/pencipta dan makhluq/yang diciptakan. Tiga kata ini terambil dari kata yang sama, yaitu khalaqa, sehingga kesamaan ini tiga kata ini memiliki keterkaitan makna. Bahwasanya,...