Langsung ke konten utama

Ilmu Qiraat


A.        Perkembangan Ilmu Qira’at
Ilmu qira’at adalah ilmu yang mempelajari cara membaca kalimat-kalimat Qur’an dan perbedaan yang selalu menisbatkan kepada perawi qira’at. Pengetahuan tentang qiraat sudah ada pada zaman nabi tapi belum dikhususkan sebagai disiplin ilmu, dinamakan ilmu qiraat itu sesudah masa nabi.
Ilmu ini muncul dan berkembang sesuai perkembangan masyarakat, ilmu qira’at akhir-akhir ini kembali bergairah, banyak muncul komunitas qira’at, banyak kitab-kitab atau mushaf dicetak berdasarkan riwayat, banyaknya institusi pendidikan yang mengkhususkan pada kajian qira’at, universitas banyak yang mengkaji qira’at, kitab-kitab yang tadinya berbentuk manuskrip sekarang sudah dicetak.
Qira’at di Indonesia berkembang lambat, qira’at berbahasa Arab tapi membacanya tidak harus berdialek seperti orang Arab, karena Arab dan Indonesia berbeda dialek, Allah membolehkan membaca dengan 7 varian bacaan Al-Qur’an, pada akhir abad ke-3 awal ke-4 terjadi kericuhan karena banyaknya varian bacaan, sehingga Ibnu Mujahid merangkum qira’at tersebut kedalam 7 bacaan yang shahih berdasarkan riwayat.

B.        Materi ilmu qira’at terdiri dari 2 kaidah.
1.         Kaidah-kaidah umum
2.         Bacaan-bacaan khusus

C.         Imam-iman qira’at
1.         Nafi’ (madinah)
2.         Ibn Katsir (makkah)
3.         Al Kisa’i (kuffah)
4.         Abu Amr (bashrah)
5.         Ibn Amir (syam)
6.         Ashim (syam)
7.         Hamzah (syam)

D.        Adapun rincian sanadnyasebagai berikut:
1.         Nafi’ meriwayatkan kepada Qalun dan Warsy
2.         Ibn Katsir meriwayatkan kepada Bazzi dan Qunbul
3.         Abu Amr meriwayatkan kepada As-Susi dan Ad-duri
4.         Al-Kisa’i meriwayatkan kepada Abu Harits dan Ad Duri
5.         Ibn Amir meriwayatkan kepada Hisyam dan Ibn Da’wan
6.         Ashim meriwayatkan kepada Syu’bah dan Hafs
7.         Hamzam meriwayatkan kepada Kholaf dan kholad

E.         Faidah-faidah mempelajari Ilmu qira’at
1.         Menjaga keaslian dan kemurnian teks Al-Qur’an
2.         Seakan-akan kita membaca beberapa Al-Qur’an
3.         Mengetahui dialek arab
4.         Mengetahui Perbedaan penafsiran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Khitabat dan Asbabun Nuzul

A.         Makna Al-Khitobah Makna al-Khitobah adalah الخطا بة , الكلا م الذ ي يقصد به الافها م و الموجه لمن له امل للفهم   “Ucapan yang dipahami dimaksudkan untuk orang-orang yang akan memahami ucapan tersebut”. Dalam pemahaman Filsafat Al-Khitobah dikenal dengan nama Diskursus, jika dalam Bahasa Indonesia adalah Wacana. Pengguna al-Khitob tetap digunakan dengan makna asli pemilik kalam, disebut dengan Mukhotib atau Pemilik kalam (Allah SWT). Khitob dalam al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu Khitob ‘Am dan Khitob Khos : + Khitob ‘Am, Khitob yang sifatnya umum, ditujukan pada orang-orang yang beriman dan tidak beriman. Tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. +   Khitob Khos, Khitob yang sifatnya khusus, ditujukan pada kelompok tertentu. Diantaranya : Allah, Nabi, Rasul, Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani).     Didalam al-Qur’an yang perlu dipahami ada 3 aspek, diantaranya : +   اصلا ح العقا ءد   ...

Bahasa Arab Al-Qur'an

Materi yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Arifin, MA adalah materi Bahasa Arab, tidak seperti materi bahasa arab pada umumnya, akan tetapi beliau menjelaskan materi tentang bahasa arab yang kemudian dikaitkan dengan Al-Qur’an, dalam hal ini bliau menjelaskan sebuah kaidah bahasa Arab, bahwa sebuah sinonim didalam bahasa arab khususnya didalam Al-Qur’an, ketika disebutkan di ayat yang lain maka maknanya akan berbeda, seperti menatap, memandang, memperhatikan dan sebagainya. Didalam Al-Qur'an, Allah SWT menggunakan banyak sekali kata-kata yang berbeda dengan maksud dan tujuan yang berbeda pula, akantetapi artinya sama. Seperti kata buah-buahan, didalam   Al-Qur'an, pertama didalam surat Al-Baqoroh ayat 22 Allah SWT menggunakan  kata "Tsamarot" yang artinya buah-buahan dan pada surat Yasin ayat 36 Allah SWT menggunakan kata "Fakihah" yang artinya buah-buahan pula. Dalam hal ini, maksud buah-buahan pada surat A l B aqoroh dan surat Y asin tentu berbeda. Pe...

Tafsir Ayat 4 Surah al-Qalam

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ   “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. A.        Kajian Makna Kata لَعَلَىٰ / la ala merupakan frase yang tersusun dari dua kata, yaitu lam dan ala, yang kemudian dapat berarti benar-benar atas. Hal yang sangat urgen dalam frase ini adalah kata lam yang—dalam gramatikal bahasa Arab disebut lam tawkid— berfungsi memperkuat informasi. Bahwasanya Nabi Muhammad saw merupakan sosok utusan Allah yang kepribadiannya dihias dengan budi pekerti yang baik/mulia. Kata خُلُقٍ / khuluq merupakan kata yang terambil dari kata khalaqa yang bermakna menciptakan (created). Kata khuluq sendiri seringkali diterjemahkan dengan a moral (budi pekerti). Khuluq/budi pekerti, bagi sebagian pakar, seringkali dikaitkan dengan kata khaliq/pencipta dan makhluq/yang diciptakan. Tiga kata ini terambil dari kata yang sama, yaitu khalaqa, sehingga kesamaan ini tiga kata ini memiliki keterkaitan makna. Bahwasanya,...