Langsung ke konten utama

Kajian Makna

Bahasa baik lisan maupun tulisan adalah alat bagi manusia untuk mengungkapkan pikirannya yang abstrak. Ketika ingin mengutarakan sesuatu, di dalam benak manusia sudah terbentuk konsep arti yang abstrak sifatnya (signifie). Setelah ditulis atau diucapkan, fikiran tersebut menjadi sesuatu yang konkrit sifatnya (signifiant). Jadi, bahasa adalah alat untuk memproduksi arti.
Makna kata pada suatu bahasa perlu diketahui untuk memahami bahasa tersebut. Begitu juga tidak kalah pentingnya memahami makna kata itu pada saat dikombinasikan menjadi sebuah makna frase dan makna kalimat. Semantik adalah bidang kajian linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Dengan kata lain, semantik adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda dalam bahasa. Dalam bahasa Arab, semantik dikenal dengan ilmu al-dilalah.
Semantik mempelajari makna satuan-satuan lingual bahasa, yaitu kata, frasa, klausa, dan kalimat. Semantik memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat penuturnya. Semantik mengkaji makna tanda bahasa, yaitu kaitan antara konsep dan tanda bahasa yang melambangkannya. Semantik juga mengkaji makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
Al-Qur’an tidak berbicara sendiri, melainkan ia berbicara bersama orang yang sedang memahaminya yakni para ulama maupun mufassir. Itu berarti makna yang kita dapat saat ini adalah makna yang tidak murni dari Al-Qur’an melainkan berasal dari pemahaman orang yang sedang membaca Al-Qur’an tersebut. Jadi perbedaan makna dalam menafsirkan Al-Qur’an merupakan hal yang biasa.
   Makna juga dapat berubah menyesuaikan konteks masyarakat yang sedang dihadapi. Seperti disebutkan dalam surah Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 lafadz dzaroh dalam tafsir Muhammad Yunus diartikan sebagai biji sawi, kemudian makna tersebut berubah menjadi debu ditafsirkan oleh Zainuddin Hamid dan menurut Buya Hamka diartiak sebagai atom.
Kemudian contoh lainnya yaitu lafad Sulthon yang awalnya diartikan sebagai kekuasaan, lalu ilmu pengetahuan dan sekarang diartikan sebagai teknologi. Pergeseran terjemahan ini menandakan bahwa al-qur’an itu “sholih likulli zaman wa makan”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Khitabat dan Asbabun Nuzul

A.         Makna Al-Khitobah Makna al-Khitobah adalah الخطا بة , الكلا م الذ ي يقصد به الافها م و الموجه لمن له امل للفهم   “Ucapan yang dipahami dimaksudkan untuk orang-orang yang akan memahami ucapan tersebut”. Dalam pemahaman Filsafat Al-Khitobah dikenal dengan nama Diskursus, jika dalam Bahasa Indonesia adalah Wacana. Pengguna al-Khitob tetap digunakan dengan makna asli pemilik kalam, disebut dengan Mukhotib atau Pemilik kalam (Allah SWT). Khitob dalam al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu Khitob ‘Am dan Khitob Khos : + Khitob ‘Am, Khitob yang sifatnya umum, ditujukan pada orang-orang yang beriman dan tidak beriman. Tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. +   Khitob Khos, Khitob yang sifatnya khusus, ditujukan pada kelompok tertentu. Diantaranya : Allah, Nabi, Rasul, Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani).     Didalam al-Qur’an yang perlu dipahami ada 3 aspek, diantaranya : +   اصلا ح العقا ءد   ...

Bahasa Arab Al-Qur'an

Materi yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Arifin, MA adalah materi Bahasa Arab, tidak seperti materi bahasa arab pada umumnya, akan tetapi beliau menjelaskan materi tentang bahasa arab yang kemudian dikaitkan dengan Al-Qur’an, dalam hal ini bliau menjelaskan sebuah kaidah bahasa Arab, bahwa sebuah sinonim didalam bahasa arab khususnya didalam Al-Qur’an, ketika disebutkan di ayat yang lain maka maknanya akan berbeda, seperti menatap, memandang, memperhatikan dan sebagainya. Didalam Al-Qur'an, Allah SWT menggunakan banyak sekali kata-kata yang berbeda dengan maksud dan tujuan yang berbeda pula, akantetapi artinya sama. Seperti kata buah-buahan, didalam   Al-Qur'an, pertama didalam surat Al-Baqoroh ayat 22 Allah SWT menggunakan  kata "Tsamarot" yang artinya buah-buahan dan pada surat Yasin ayat 36 Allah SWT menggunakan kata "Fakihah" yang artinya buah-buahan pula. Dalam hal ini, maksud buah-buahan pada surat A l B aqoroh dan surat Y asin tentu berbeda. Pe...

Tafsir Ayat 4 Surah al-Qalam

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ   “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. A.        Kajian Makna Kata لَعَلَىٰ / la ala merupakan frase yang tersusun dari dua kata, yaitu lam dan ala, yang kemudian dapat berarti benar-benar atas. Hal yang sangat urgen dalam frase ini adalah kata lam yang—dalam gramatikal bahasa Arab disebut lam tawkid— berfungsi memperkuat informasi. Bahwasanya Nabi Muhammad saw merupakan sosok utusan Allah yang kepribadiannya dihias dengan budi pekerti yang baik/mulia. Kata خُلُقٍ / khuluq merupakan kata yang terambil dari kata khalaqa yang bermakna menciptakan (created). Kata khuluq sendiri seringkali diterjemahkan dengan a moral (budi pekerti). Khuluq/budi pekerti, bagi sebagian pakar, seringkali dikaitkan dengan kata khaliq/pencipta dan makhluq/yang diciptakan. Tiga kata ini terambil dari kata yang sama, yaitu khalaqa, sehingga kesamaan ini tiga kata ini memiliki keterkaitan makna. Bahwasanya,...