Munasabah
berarti hubungan, keseimbangan, kesesuaian ataupun keserasian. Melalui konsep
ini, Allah swt mengajarkan kepada kita banyak hal. Allah mengajarkan kita untuk
adil, karena keadilan menciptakan keindahan. begitupun keserasian yang akan
menciptakan keindahan. Pasangan yang serasi akan lebih sedap dipandang mata.
Oleh karena itu Allah swt mensyaratkan kafa’ah (kesetaraan, kesesuaian) dalam
pernikahan. Konsep makrocosmos pun menunjukan munasabah. Betapa seimbangnya
Allah menciptakan alam semesta sehingga ia bisa berjalan pada garis edarnya
masing-masing, tanpa tabrakan, tanpa menyalahi aturan dan hal lain yang dapat
menyebabkan kehancuran. Kesadaran mikrocosmos juga melukiskan munasabah, betapa
indah Allah menciptakan tubuh ini dengan
milyaran keseimbangan yang tampak. Mata kita bersama pengelihatannya yang Allah
ciptakan bersebelahan. Otak sebagai pengatur keseimbangan tubuh kita juga Allah
ciptakan dengan berpasangan dan seimbang. Sehingga kita nyaman dengan
keberadaan tubuh kita, khususnya ataupun alam semesta pada umumnya.
Adanya kajian munasabah membuktikan adanya I’jaz Al-Qur’an,
yakni dengan keterkaitannya satu ayat dengan yang lain, tanpa mengurangi
keagungannya. Bahkan ini menjadi satu titik yang memotifasi kita untuk mengkaji
dan mempelajarinya lebih dalam lagi. Munasabah berasal dari bahasa Arab yakni ناسب – يناسب- مناسبة yang berarti dekat, yang menyerupai , muqarrabah.
Imam As-Suyuti mengartikan munasabah sebagai perhubungan, pertalian,
pertautan dan persesuaian. Perbedaan tentang munasabah ini terkait dengan
menentukan tartib al-mushafi yakni tauqifi dan ijtihadi.
Pandangan ilmuan tentang munasabah
Diskursus penting tafsir Al Qur’an muslim modern dalam
konteks relevansi untuk kajian munasabah dalam Al Qur’an di dunia muslim
kontemporer, mengemuka setelah selesainya penulisan disertasi di School
Oriental and African Studies (SOAS) pada 2006, yang telah mencoba menerapkan
munasabah dengan pendekatan bahasa untuk menafsirkan Al Qur’an. Munasabah itu.
Dan tidak mungkin Allah berfirman dengan satu ayat dengan ayat yang lain tanpa
maksud.
Imam As Suyuthi dalam kitabnya asrarul qur’an menjelaskan tentang
macam munasabah yang ada dalam Al-Qur’an yakni:
1. Tartib surat dalam Al Qur’an dan
hikmah
2. Pembukaan dan akhir surat
3. Awal surat dengan isi surat
4. Awal surat dengan akhir
5. Satu ayat dengan ayat setelahnya
6. Akhiran ayat dengan awal ayat
setelahnya
7. Nama surat dan kandungan surat.
1. Munasabah dalam satu surat
a. Awal dengan akhir dalam satu surat
b. Satu ayat dengan sebelumnya
c. Hukum pada beberapa ayat
d. Nama surat dengan kandungannya.
2. Antara dua surat
a. Akhir ayat dengan awal ayat
setelahnya
b. Kandungan dengan kandungannya
c. Munasabah secara umum
3. Antar ayat dalam satu surat
a. Antar ayat dan penutupannya
b. Antar kalimat dalam ayat
c. Antar kata dalam satu surat
d. Antar ayat satu dan terakhir dalam
satu surat
4. Munasabah surat
a. Antara satu surat dan satu surat
sesudahnya
b. Antara awal uraian surat dan akhir
surat
c. Antara awal surat dan akhir surat
sebelumnya
d. Antar tema surat dengan nama surat
e. Antara penutup surat dengan
muqadimah surat berikutnya
f.
Antara kisah dalam satu surat
g. Antar surat
h. Antara fawatih dan isi suratnya.
Jika kita cermati, dalam tiga ayat terakhir surah An
Nahl dan tiga ayat permulaan surah Al Isra terdapat munasabah.
Akhir an Nahl (menyuruh nabi untuk bersabar)
1-2 al Isra (saat nabi turun ke langit dan bertemu dengan nabi
Musa As dan bertanya apa yang ia dapat kemudian nabi menjawab shalat 5 waktu.
2-3 al Isra (supaya bersyukur (contoh) Nabi Nuh
berkaitan dengan konsep dakwah nabi Nuh, yang berakwah selama 950 tahun.
Pelajaran yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad.
Ilmu
munasabah itu laksana mutiara yang tak berujung.
Komentar
Posting Komentar